Lihat Lebih Dalam bersama SOCA: A Medium of Becoming


Bagaimana jika tindakan sederhana seperti melihat bisa mengubah cara kita memandang diri sendiri? What if the simple act of looking could change the way we see ourselves?

 

Dalam Soca, pameran tunggal Mia Diwasasri di RAD, pertanyaan itu mengajak kita untuk berhenti sejenak dan melihat lebih dekat. Bukan hanya pada apa yang ada di depan kita, tetapi juga pada apa yang balik memandang kita. Soca, yang berarti “mata” dalam bahasa Sunda, membuka ruang pertemuan antara penglihatan dan refleksi, antara yang tampak dan yang tersembunyi di bawah permukaan. 

Jika berkesempatan mengunjungi pameran Mia pada 22 Agustus hingga 20 September di RAD, undangan untuk melihat lebih dalam ini sudah terasa sejak langkah pertama kita masuk. Mata hadir di mana-mana. Ada yang berwarna hijau lumut, biru laut, cokelat lembut, hitam pekat. Ada yang mengikuti dengan rasa ingin tahu yang tenang, ada yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri, dan ada pula yang menatap langsung dengan kejujuran yang nyaris tanpa filter. Melalui itu semua, Mia berbicara tentang melihat dan dilihat, tentang bagaimana setiap tatapan selalu membawa jarak sekaligus kedekatan, tentang bagaimana kita selalu berada di antara membuka dan menyembunyikan diri di hadapan pandangan orang lain.

Who is Mia? 

Lahir di Bandung pada 1975, perjalanan kreatif Mia Diwasasri dimulai di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan jurusan keramik. Tahun-tahun awalnya dibentuk oleh disiplin dan mempelajari beragam teknik, tetapi keseniannya berakar pada rasa ingin tahu.

Seiring waktu, Mia menjalani banyak peran: sebagai pelajar, saudara, istri, ibu, pengajar, teman, sekaligus pengamat. Setiap peran membawa tekstur, retakan, dan cara melihat yang baru. Ketika ia pindah ke Bali pada 2018, sesuatu mulai bergeser. Riuh kota digantikan oleh ritme pasang-surut. Urgensi karier perlahan diganti oleh kelambatan waktu. Di ruang itulah, Mia mulai bernapas dengan cara yang berbeda, dan melukis dengan cara yang berbeda pula.

Sejak saat itu, karyanya hadir dalam berbagai pameran di Indonesia, dari Seminyak Design Week hingga NeoPitamaha, Ways of Dreaming, Into Transition, dan Parallels: Legacies in Flux. Melalui keramik, cat air, dan akrilik, bahasa visual Mia tetap terasa lembut, intuitif, dan sangat terhubung dengan transformasi kehidupan.

Namun, mungkin yang paling mendefinisikan Mia adalah bagaimana karyanya lahir dari kepekaan melihat dan bagaimana ia terus menggali hal-hal yang tak kasatmata. Menariknya, di luar praktik artistiknya, Mia juga merupakan seorang praktisi paranormal profesional. Ini bukan keterampilan yang dengan sengaja ia pelajari melainkan sesuatu yang ia terima. Karenanya, motif mata yang terus muncul dalam karyanya terasa sangat personal dan juga pas.

Pada dasarnya, mata adalah metafora yang kuat. Ia menjadi semacam jembatan antara dunia fisik dan metafisik. Melalui lukisan dan keramik, Mia melepaskan residu emosi dan energi negatif yang ia kumpulkan dari praktik spiritualnya. Seni menjadi ruang pijak, sebuah cara untuk menerjemahkan pengalaman tak terlihat menjadi bentuk yang bisa disentuh. Dalam konteks ini, praktiknya bukan hanya ekspresif, tetapi juga restoratif, baik bagi dirinya maupun bagi mereka yang menyaksikan karyanya.


Melihat, dan Dilihat

Saat kita berdiri di depan karya Mia, sesuatu yang menarik terjadi: kita mulai menyadari bahwa kita sedang menyadari sesuatu. Dan memang itu tujuannya. Lukisan dan bentuk keramiknya menjadi semacam cermin.

Karena sensitivitas spiritualnya, Mia kerap berjumpa dengan kehadiran leluhur. Figur-figur ini muncul secara subtle dalam karyanya, bisa dalam bentuk manusia, hewan, dan simbol. Ini menciptakan benang merah tentang asal-usul, identitas, dan warisan. Dengan demikian, Soca bukan hanya refleksi identitas personal, tetapi juga dialog dengan garis keturunan. Ibi bisa dikatakan sebuah eksplorasi tentang bagaimana kehidupan masa lalu, energi yang diwariskan, dan memori kolektif membentuk siapa kita yang sedang menjadi.

Dalam karya berjudul “Madya” (2025), Mia menempatkan satu figur utama di pusat, dikelilingi wajah-wajah familiar, tanaman rimbun, dan satu mata yang mengawasi dari atas. Suasananya intim, hampir seperti ritual personal. Tentang hadir. Tentang duduk dan mengamati apa yang membentuk kita—ingatan, leluhur, emosi—dan membiarkan semuanya berdampingan. Di sini, “madya” menjadi ruang hidup di mana yang personal bertemu dengan yang spiritual.

"MADYA", Watercolor mixed media, 38 x 56 cm, 2025


Dalam karya lain seperti “Lamas” (2025), manusia dan hewan hidup berdampingan dengan alami. Ular melingkar di udara, burung membawa secangkir air, kelopak mata tersebar seperti benih. Perpaduan surealis ini bukan kebetulan, melainkan refleksi dari identitas manusia yang terfragmentasi. Kita memang terdiri dari banyak hal sekaligus. Dan itu truly fine. Memang begitulah hidup.

“LAMAS", Watercolor mixed media, 38 x 56 cm, 2025


Mia juga mengeksplor medium lain melalui stoneware underglaze, seperti dalam “Kulon,” “Kaler,” dan “Pakuan.” Mata-mata diwujudkan menjadi bentuk keramik yang taktil—terasa kuno sekaligus intim. Objek-objek kecil ini membumikan citra spiritualnya ke dalam sesuatu yang hampir bisa digenggam.

"KULON", "KALER", "PAKUAN", "WETAN", "KIDUL”, Stoneware underglaze (high fire), size varied, 2025

Dalam dunia Mia, dilihat bukan tentang diawasi, melainkan tentang diakui. Tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk terlihat bahkan ketika terasa tercerai-berai, belum utuh, atau terasing.

Seperti banyak perempuan lainnya, Mia memahami beban ekspektasi yang tak kasatmata—“lensa sosial” yang mengatur cara kita bergerak, berpakaian, mencintai, dan hidup. Dalam konteks ini, mata dalam karyanya menjadi bentuk reclaiming—mengambil kembali kuasa atas diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa keintiman selalu mengandung risiko: risiko untuk benar-benar terlihat. Dan untuk bisa menatap orang lain dengan jujur, kita harus berani menatap diri sendiri terlebih dahulu.

Dalam filosofi Hindu Bali, manusia tidak lahir sebagai entitas tunggal, melainkan sebagai sebuah konstelasi. Kepercayaan Kanda Pat menyebut empat pendamping ilahi, yakni getih, lamas, yeh nyom, dan ari-ari yang menyertai kita sejak lahir, membimbing kita menuju pusat diri, pancer.

Pandangan ini bergema dalam karya Mia. Ia seolah berbisik bahwa kita tidak pernah hanya satu hal. Di dalam diri kita ada lapisan, kontradiksi, dan gema dari berbagai versi diri yang terus belajar untuk hidup berdampingan.

Mia x RAD

Ruang Arta Derau (RAD) selalu menjadi ruang bagi proses. RAD adalah tempat di mana proses mencipta dipahami sebagai dialog, bukan garis akhir. Didirikan oleh Arta Derau dan arsitek Herwaman Dasmanto, ruang ini berawal dari studio keramik Sekar Puti dan studio grafis Agugn, lalu berkembang dengan hadirnya RPFF, laboratorium risograph yang berfokus pada eksperimen dan pertukaran komunitas.

Soca hadir di RAD sebagai pengalaman imersif, dikurasi oleh Keni Soeriaatmadja. Dari instalasi hingga malam pembukaan, semuanya berpusat pada proses, kehadiran, dan koneksi. Malam pembukaannya terasa hangat dan intim. Pengunjung bebas menikmati satu karya ke karya lain. Wisnu menyajikan cocktail ginger rum dan mocktail lime segar, Derau Coffee hadir di lokasi, dan DJ Rika (Yuniorika) membangun lanskap suara yang menyatu dengan atmosfer reflektif. Alih-alih terasa formal, Soca terasa seperti momen bersama—hening, membumi, dan sangat manusiawi. 

Karya Mia selaras dengan visi RAD yang melihat seni sebagai dialog yang terus berlangsung. RAD berkomitmen mendukung praktik kontemporer, khususnya seniman emerging—dengan keyakinan bahwa “emerging” tidak harus berarti muda. Mia, yang kini mendekati usia lima puluh, merepresentasikan hal tersebut. Setelah melalui berbagai fase kehidupan, energinya justru terasa semakin kuat. Ia memilih untuk benar-benar melangkah penuh sekarang. Perjalanannya menegaskan satu hal: tidak ada batas waktu dalam jalur artistik.

Ke depan, Soca berpotensi melampaui ruang galeri. Ada rencana kelas cat air dan gambar untuk publik, serta kemungkinan zine atau bahkan buku mewarnai yang terinspirasi dari bahasa visual Mia—membawa pameran ini ke ranah partisipatif dan edukatif.

Ketika pengunjung memasuki Soca di RAD, mereka akan menemukan mata. Banyak sekali mata. Tapi alih-alih menghakimi, mata di Soca hanya hadir—mendengar dan menyaksikan. Mereka mengingatkan bahwa melihat adalah cara kita terhubung—dengan orang lain, dengan diri sendiri, dan pada akhirnya, dengan proses becoming.

Karena mungkin pertanyaan yang diajukan Soca bukan “Apa yang kita lihat?” melainkan, “Apa yang kita lihat ketika tatapan itu berbalik kepada kita?”

Next
Next

Magnified Ordinary: Devy Ferdianto, dan the Art of Looking Closer