TETHER//TAMBATAN
Make a Longer Table, Not a Higher Wall
Kapan terakhir kali kita merasa benar-benar terhubung dengan seseorang?
Di era ketika kita dapat terhubung dengan siapa saja dalam hitungan detik, pertanyaan itu terasa semakin dekat dengan kehidupan. Kita hidup di masa ketika hampir semua orang dapat saling terhubung dalam hitungan detik. Kita bertukar pesan, berbagi like, memberikan follow, membagikan foto, bahkan bisa membangun hubungan dengan orang-orang yang belum pernah kita temui secara langsung. Namun, di tengah segala kemudahan tersebut, ada kalanya kita tetap merindukan sesuatu yang lebih mendasar: dilihat dan disadari, dalam arti seseorang menatap kita, dan ada sesuatu yang melintas di antara kita yang sulit dijabarkan oleh kata-kata.
Di era yang memberi kita begitu banyak cara untuk saling terhubung, mengapa kita masih merasa sendirian? Pertanyaan itulah yang menjadi titik berangkat TETHER. Pertanyaan itu membawa kami pada gagasan tentang tambatan: hal-hal yang membuat kita tetap terhubung dan bertambat dengan sesuatu di luar diri kita, di tengah dunia yang terus bergerak
Kami tidak berusaha memberikan jawaban yang pasti dan juga tidak sedang meratapi masa lalu atau mengutuk masa kini. Sebaliknya, kami mencoba menempatkan pertanyaan tersebut ke dalam sebuah ruang yang diwujudkan melalui tanah liat, kertas, tinta, logam, gambar bergerak, angin, dan air, lalu mengundang kita semua untuk hadir dan tinggal sejenak bersamanya.
Proyek ini tumbuh dari praktik sehari-hari di RAD (Ruang Arta Derau), sebuah ruang kreatif di Tegallalang, Bali, yang dijalankan oleh Sekarputi dan Agugn. Lebih dari sekadar studio, RAD adalah sebuah ekosistem kecil tempat berbagai praktik artistik dan produksi material saling bertemu, saling memahami, dan lalu saling berkolaborasi.
Di dalamnya terdapat beberapa ruang yang saling terhubung:
Arta Derau Ceramic, studio seni keramik milik Sekarputi
Studio Seni Grafis dan Kertas Agugn
RPFF, proyek percetakan umum, penerbit independen, dan perpustakaan kecil yang dijalankan oleh Sekarputi dan Agugn
RAD Artspace, ruang pamer dan percakapan seni
RAD Store, concept store yang menghadirkan berbagai merchandise dan edisi karya dari seniman, perajin, serta desainer
RADAIR (RAD Artist in Residence), program residensi seniman
Ruang-ruang ini tidak berdiri sendiri. Semuanya tumbuh melalui praktik kolaboratif yang melibatkan tim RAD dan para artisan yang bekerja bersama dalam proses penciptaan karya.
Dalam kesehariannya, RAD menjadi tempat bertemunya berbagai pengetahuan material, mulai dari keramik, cetak grafis, pembuatan kertas, hingga berbagai praktik kerja tangan lainnya. Tidak terbatas pada hasil-hasil fisik, di dalam percakapan, tawa, rasa haru, perbedaan pendapat, dan rencana-rencana yang belum terwujud, tumbuh pula pengetahuan yang tidak kasatmata. Karena itu, yang kami bangun di RAD bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang untuk terus memperluas percakapan.
Dengan kata lain, RAD adalah sebuah meja yang kami harapkan bisa terus diperpanjang.
Namun, memperpanjang meja juga berarti terus bertanya tentang bagaimana meja itu dibangun, siapa saja yang turut menopangnya, dan relasi-relasi apa yang memungkinkan ruang ini hadir. Bagi kami, yang paling jelas adalah setiap seniman yang mencurahkan berbulan-bulan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mewujudkan karya. Setiap tangan yang menggantung karya di dinding. Setiap orang yang membalas satu pesan lagi pada jam ketika seharusnya mereka beristirahat.
Kami melihat kerja itu. Kami menghormatinya.
Dan rasa tidak nyaman yang kami rasakan tidak mengurangi nilai kerja tersebut sedikit pun.
RAD dibangun dari sebuah komitmen yang sederhana namun sungguh-sungguh: untuk merawat ruang ini dengan penuh perhatian. Untuk memperhatikan apa yang masuk ke dalamnya, nilai-nilai apa yang dibawanya, dan siapa yang memperoleh manfaat dari keberadaannya.
Bagi kami, ruang aman bukanlah ruang yang pasif, melainkan sebuah kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, bahkan ketika waktunya terasa tidak nyaman. Ini adalah satu bagian yang tak bisa terelakkan dari setiap hubungan yang ingin dijalani dengan sungguh-sungguh. Sebab keterhubungan bukan hanya tentang menemukan kesepakatan, tetapi juga tentang kesediaan untuk tetap hadir ketika pertanyaan-pertanyaan yang sulit muncul di tengahnya.
PERTANYAAN DI TENGAH SEMUANYA
Kita hidup di era yang mungkin paling terhubung dalam sejarah manusia. Miliaran perangkat bertukar data setiap detik. Notifikasi kadang datang lebih cepat daripada perasaan itu sendiri. Kita mengemas diri untuk orang-orang yang belum, atau mungkin tidak akan pernah, kita temui. Kita menampilkan keintiman melalui kolom komentar, balasan story, atau emoji dalam pesan pribadi. Semua itu mencoba menggantikan hal-hal yang dulu hadir melalui tatapan, sentuhan, atau pelukan.
Namun ada satu hal yang tetap bertahan: kesepian.
Dalam bukunya Alone Together (2011), sosiolog Sherry Turkle mengamati bahwa teknologi membuat kita semakin mudah untuk "bersama", sambil pada saat yang sama tetap merasa sendirian. Kita selalu tersedia atau available, tetapi tidak selalu hadir.
Lebih dari satu dekade kemudian, Office of the Surgeon General (2023) bahkan menyebut kondisi ini sebagai epidemi kesepian. Di berbagai kelompok usia, meningkatnya penggunaan media sosial berjalan beriringan dengan meningkatnya laporan mengenai kesepian. Di Indonesia, penelitian dalam beberapa tahun silam menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intens berkaitan dengan meningkatnya risiko stres, kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga kesepian pada remaja. Bagaimanapun, TETHER tidak melihat fenomena ini sebagai kegagalan teknologi (Gunawan et al., 2022).
Bagi kami, teknologi bukan sesuatu yang perlu dijadikan kambing hitam. Dunia juga tidak sesederhana narasi yang mempertentangkan masa lalu yang hangat dan analog dengan masa kini yang dingin dan digital. Tak terelakkan, teknologi juga berhasil menghubungkan kita ke satu sama lain dengan luar biasa instan dan mudah.
Jadi, pertanyaan kami di atas kembali makin sulit diabaikan: di era yang memberi kita begitu banyak cara untuk saling terhubung, apa yang membuat sebuah hubungan terasa nyata?
Karena mungkin koneksi yang paling bermakna bukanlah yang paling sering terjadi, melainkan yang meninggalkan jejak dan terus tinggal bersama kita setelah perjumpaan itu selesai.
“Koneksi yang paling kaya bukan yang paling sering terjadi, tetapi yang meninggalkan bekas.”
— diadaptasi dari Brené Brown, Daring Greatly (2012)
RAD DAN PRAKTIKNYA
Pemikiran ini berangkat dari cara kerja yang telah lama kami jalankan di RAD: bekerja bersama dan berdialog dengan berbagai pihak yang terlibat dalam proses penciptaan.
Dalam Together (2012), Richard Sennett menggambarkan kerja sama sebagai kemampuan untuk membangun hubungan dengan orang-orang yang tidak selalu berpikir, bekerja, atau melihat dunia dengan cara yang sama seperti kita. Keterampilan ini tidak tumbuh melalui penyeragaman, melainkan melalui kesediaan untuk membuka ruang bagi perbedaan. Gagasan tersebut sejalan dengan upaya RAD untuk terus memperpanjang meja percakapan: menghadirkan lebih banyak suara, lebih banyak pengalaman, dan lebih banyak kemungkinan untuk bertemu.
Dalam praktik yang berkembang di RAD, sebuah karya jarang lahir dari satu individu saja. Yang lebih sering, sebuah karya tumbuh dari percakapan antara seniman, artisan, pembuat alat, teknisi, serta berbagai pengetahuan material yang saling bertemu. Kolaborasi ini tidak selalu terlihat pada permukaan karya, tetapi menjadi bagian penting dari bagaimana karya tersebut terbentuk.
Melalui praktik ini, kami berupaya membangun dialog lintas-disiplin dan lintas-generasi antara para pembuat: seniman, artisan berpengalaman, hingga berbagai praktisi yang membawa tradisi kerja tangan yang telah diwariskan dan dikembangkan selama bertahun-tahun.
Dialog tersebut bertumpu pada dua prinsip utama.
Equality
Setiap pihak yang terlibat dalam proses penciptaan dipandang sebagai bagian penting dari ekosistem kreatif. Peran artisan tidak ditempatkan sebagai sekadar tenaga teknis, melainkan sebagai rekan dialog yang turut membentuk kemungkinan-kemungkinan baru dalam sebuah karya.
Kami juga secara sadar menjunjung kesetaraan gender. Karena kami sadar sejarah dunia seni rupa selama ini dibentuk oleh dominasi sudut pandang laki-laki. Kurangnya kacamata yang imbang dalam peran berbasis gender untuk melihat ekosistem seni rupa yang lebih luas, menjadi sebuah pertimbangan penting untuk RAD berjalan dan menentukan tujuannya sebagai ruang aman di dalam lanskap kesenian kontemporer.
Sustainability
Bagi kami, keberlanjutan tidak hanya membahas soal aspek ekologis, melainkan juga menyangkut keberlanjutan ide, praktik, relasi kerja, serta model ekonomi yang menopangnya.
Kami percaya bahwa pengetahuan material perlu terus diestafetkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Begitu pula dengan pengalaman, keterampilan, dan nilai-nilai yang tumbuh melalui praktik berkesenian. Semua itu hanya dapat bertahan melalui hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan, kerja sama, dan pertukaran pengalaman yang sehat.
Dengan cara ini, kami berupaya membangun model praktik artistik yang tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses yang memungkinkan sebuah karya hadir. Sebuah proses yang sering kali melibatkan navigasi/riset, negosiasi/mengukur kemampuan, delegasi/produksi, dan kompromisasi/pasca produksi–rangkaian interaksi yang sama pentingnya dengan karya itu sendiri.
CATATAN TENTANG PROSES
TETHER bukan sebuah perjalanan nostalgia yang meromantisasi masa lalu. TETHER juga bukan ceramah yang memberi tahu kita bagaimana seharusnya memahami sebuah karya. Satu lagi, TETHER tidak pula mencoba menjadi solusi atas persoalan keterhubungan manusia di era digital.
Sebaliknya, TETHER menawarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: sebuah ruang tempat pertanyaan tentang koneksi dapat dirasakan, bukan sekadar dipikirkan.
Sebagian besar karya dalam pameran ini dibuat dengan tangan. Itu bukan kebetulan.
Bagi kami, proses membuat adalah bentuk koneksi itu sendiri. Di dalamnya ada pertemuan antara pembuat dan material, antara niat dan kemungkinan, serta antara seseorang yang meluangkan waktunya untuk menciptakan sesuatu dengan orang lain yang suatu hari akan menemuinya.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi kecepatan, optimasi, dan distribusi instan, benda-benda buatan tangan mengajukan pertanyaan yang berbeda:
Apa artinya ketika seseorang menghabiskan waktunya untuk membuat sesuatu bagi orang lain?
Karena yang paling istimewa dari kerja tangan bukan hanya hasil akhirnya, melainkan hubungan yang terbentuk selama prosesnya. Sebuah hubungan yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi tetap meninggalkan jejak pada benda, ruang, dan orang-orang yang berjumpa dengannya.
KARYA-KARYA DALAM ARTJOG 2026 Ars Longa: Generatio
RAD atau Ruang Arta Derau adalah ruang kreatif yang mendedikasikan program-programnya untuk mendukung iklim seni kontemporer Indonesia yang lebih sehat melalui nilai kesetaraan dan keberlanjutan. Ruang ini tumbuh dari ideologi Studio Keramik Arta Derau yang sejak awal hingga hari ini menjadi roda ekonomi yang menggerakkan RAD.
RAD digagas oleh Arianti Darmawan, seorang pebisnis yang percaya pada pentingnya peran seni dalam kehidupan masyarakat, bersama Sekarputi Sidhiawati, seniman yang berfokus pada medium keramik dengan tema keperempuanan dan narasi kesetaraan, di mana Sekarputi kemudian memupuk dan menjalankan nilai-nilai tersebut melalui program, kolaborasi, dan berbagai proses yang berlangsung di RAD.
Bangunan RAD di Tegallalang juga merupakan hasil kolaborasi dengan arsitek Hermawan Dasmanto, yang dikenal melalui praktiknya di Orasis Art Space, Surabaya.
Melalui proses diskusi dan pengembangan karya, kami kemudian mengajak sejumlah kolaborator yang tidak hanya memperkaya gagasan, tetapi juga mengarahkan proses penciptaan ke area-area yang berbeda dari bayangan awal kami. Pameran ini menghadirkan berbagai medium yang dipilih bukan semata karena pertimbangan estetika, melainkan karena masing-masing menawarkan cara yang berbeda dalam membicarakan keterhubungan.
Agugn dan Sekarputi bersama RAD (Ruang Arta Derau) di ARTJOG 2026
Kolaborator yang terlibat terdiri dari tim inti RAD serta seniman dan artisan yang berada di lingkungan sekitar RAD:
Arianti Darmawan
I Ngurah Putu Agus
I Ngurah Putu Juliarta
Made Satya Harimawan
Ardhito Timothy
Ni Made Cahyanti
Tony Tandun
Satya Bhuana
Hermawan Dasmanto & DasManto Architecture
Secara spasial, area pamer ini dikembangkan bersama Hermawan Dasmanto Studio. Gagasannya tidak hanya merepresentasikan bangunan RAD, tetapi juga memberi ruang bagi pengunjung untuk menentukan sendiri jalur dan urutan pengalaman mereka terhadap karya-karya yang hadir.
Lorong asimetris dengan bukaan-bukaan kotak khas RAD mengundang pengunjung untuk masuk lebih jauh dan melihat praktik keseharian yang membentuk ruang ini. Di bagian awal, pengunjung akan disambut oleh totem monokrom dengan detail emas dan perak yang akan direspons oleh dupa buatan tangan karya Tony Tandun (Zenmunkey). Dupa dengan dua varian aroma tersebut akan dinyalakan tiga kali setiap hari selama pameran berlangsung.
Melalui sekat dan pengaturan ruang yang dirancang secara khusus, Hermawan Dasmanto juga membayangkan sebuah sirkulasi yang membawa pengunjung menuju area tengah yang lebih terbuka, sehingga keseluruhan karya dapat dilihat dalam satu pengalaman yang utuh.
Berikut adalah daftar lebih lengkap para seniman dan kolaborator yang terlibat dalam ruang RAD pada sesi Dialogus ARTJOG 2026:
AGUGN menampilkan lima karya lukisan kolase dengan medium kertas, cat akrilik, tinta, dan silver leaf di atas plexiglass.
Sekarputi Sidhiawati menampilkan dua karya yang dibuat pada periode 2024-2025. Keduanya merupakan karya keramik yang mengeksplorasi bentuk dan fragmen buku sebagai bagian penting dari narasinya. Setelah dipresentasikan di luar Indonesia, karya-karya ini akan ditampilkan untuk pertama kalinya di Indonesia.
Hermawan Dasmanto & DasManto Architecture berfokus pada aspek keruangan. Selain merancang pengalaman ruang pamer, Hermawan juga akan menghadirkan karya melalui medium stainless steel dan digital photo frame yang berisi dokumentasi RAD hasil jepretannya. Karya stainless steel tersebut hadir sebagai perpanjangan gagasan ruang yang menempel pada struktur pamer dan berkelindan dengan bentuk bukaan kotak yang menjadi ciri khas RAD.
RPFF (AGUGN & Sekarputi Sidhiawati) & Zenmunkey menghadirkan totem keramik monokrom dengan detail emas dan perak. Karya ini dibuat menggunakan tanah stoneware lokal Bali dari Pejaten yang dicampur dengan pasir dari Pantai Keramas, Gianyar. Setelah melalui proses pembakaran dan pelapisan glasir mengilap, beberapa bagian keramik diberi lapisan emas 8K dan platinum. Keramik-keramik ini kemudian disusun bertingkat membentuk sebuah totem. Pada bagian puncaknya terdapat ruang untuk menempatkan dupa buatan tangan dari Zenmunkey. Selama pameran berlangsung, dupa akan dinyalakan 3-4 kali per hari sehingga aroma menjadi bagian dari pengalaman ruang yang terus berubah sepanjang durasi pameran. Selama masa pameran, dupa direncanakan dinyalakan lima kali setiap hari. Dengan durasi pameran selama 73 hari, kami memperkirakan kebutuhan sekitar 365 batang dupa. Untuk itu, Zenmunkey akan menyediakan 400 batang dupa yang akan digunakan sepanjang pameran. Berdasarkan koordinasi terakhir dengan tim ARTJOG, kebutuhan penyimpanannya juga telah diakomodasi melalui ruang yang disediakan oleh pihak ARTJOG.
Satya Bhuana & Arta Derau berkolaborasi menghadirkan sebuah instalasi yang berangkat dari praktik dan pengalaman Satya sebagai perupa yang tumbuh di Tegallalang. Latar belakang keluarganya yang dekat dengan tradisi seni Bali, serta pendidikan arsitektur dan planologi yang ditempuhnya, membentuk cara pandangnya terhadap ruang, lanskap, dan perubahan sosial. Dalam praktik RAD, Satya merupakan salah satu rekan diskusi yang sering terlibat dalam berbagai percakapan dan program. Sebelumnya, ia juga menjadi narasumber dalam riset yang dilakukan RAD bersama Savitri Sastrawan pada tahun 2024 mengenai praktik seni di Tegallalang. Berjudul Unseen Faith Operator, instalasi ini terinspirasi dari bentuk ujung penjor dan merespons perubahan yang terjadi di kawasan Tegallalang Rice Terrace sebagai salah satu destinasi wisata terbesar di wilayah utara Ubud. Karya yang digantung pada ketinggian sekitar dua meter ini akan direspons oleh elemen keramik dari Arta Derau pada bagian bawahnya.
Riso Poster, RAD x Ardhito Timothy menghadirkan gagasan Make a Longer Table, Not a Higher Wall dalam bentuk poster risograf. Ardhito Timothy atau Moty merupakan bagian dari tim RAD yang sehari-hari berkutat di studio cetak dan mengoperasikan mesin risograf di RPFF. Poster akan dicetak dalam dua warna, pink dan hitam, sebanyak kurang lebih 5.000 eksemplar di atas kertas HVS 100 gsm. Tepi poster akan diberi gradasi warna cerah dan ditempatkan dalam wadah transparan. Pengunjung dapat mengambil poster tersebut dan memberikan donasi melalui QRIS yang tersedia. Bagi kami, karya ini juga menjadi cara sederhana untuk membayangkan bentuk ekonomi yang bertumbuh dari partisipasi, berbagi, dan kepercayaan. Sebuah sistem kecil yang mungkin tampak sederhana, tetapi dapat ikut menopang keberlanjutan ruang dan praktik yang ada di dalamnya.
Ogoh-ogoh Tawon Gerabah dan Tawon Kertas, RAD x Made Satya Ogoh-ogoh merupakan tradisi yang relatif baru dalam kebudayaan Bali. Sosok-sosok ini biasanya merepresentasikan buta kala dan diarak pada malam Pengerupukan, sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Made Satya, yang juga merupakan bagian dari tim RAD, telah lama terlibat dalam proses pembuatan ogoh-ogoh di lingkungan tempat tinggalnya di Tabanan. Dalam karya ini, bentuk tawon gerabah (pottery wasp) dan tawon kertas (paper wasp) dipilih sebagai simbol dua medium yang banyak mewarnai praktik RAD: keramik dan kertas. Kedua jenis tawon tersebut juga merupakan bagian dari keseharian kami di RAD. Mereka hadir begitu dekat, kadang menjadi teman berbagi ruang, kadang juga mengingatkan keberadaannya melalui sengatan yang tidak terduga. Melalui pendekatan ogoh-ogoh, proses pembuatan karya ini juga menjadi ruang kerja komunal yang memungkinkan berbagai orang bekerja bersama, berbagi keterampilan, dan membangun gagasan secara kolektif. Dalam pameran ini, tiga ogoh-ogoh tawon akan ditempatkan seolah-olah berkeliaran di dalam ruang. Ada yang hinggap di dinding, ada yang berada di lantai, dan ada yang tampak hendak memasuki area pamer. Kehadiran mereka mengingatkan bahwa mungkin kami, bangunan, dan seluruh aktivitas yang berlangsung di dalamnya hanyalah pendatang. Sementara para tawon itu telah lebih dulu menjadi penghuni ruang dan lanskap tempat RAD tumbuh, sekaligus bagian dari jaringan kehidupan yang sudah ada jauh sebelum ruang ini dibangun. Dengan sikap saling menghormati, kami berharap dapat terus hidup berdampingan bersama mereka. Lebih menariknya lagi, sebagaimana praktik di RAD tumbuh melalui percakapan dan kolaborasi antara banyak pihak, tawon membangun sarangnya melalui kerja kolektif yang terus-menerus. Keduanya adalah pengingat bahwa hubungan akan bisa tumbuh subur kalau ada kesediaan untuk berbagi ruang, bekerja bersama, dan saling memberi tempat untuk tumbuh dari semua pihak, termasuk kita.
RPFF Totem Besar Totem keramik setinggi 235 cm ini pada awalnya direncanakan sebagai proyek kolaborasi dengan seorang seniman new media. Namun, karena pertimbangan linimasa dan keterbatasan sumber daya, karya ini akhirnya berkembang melalui jalur yang berbeda. Gagasan dasarnya berangkat dari upaya merekam keberadaan RAD beserta nilai-nilai yang menopangnya. Sebuah penanda yang sekaligus menjadi pengingat akan arah dan trajektori yang ingin terus dibangun secara kolektif di masa mendatang. Pada presentasinya di ARTJOG, modul LCD yang sempat direncanakan digantikan oleh sistem pencahayaan. Pengunjung dapat mengintip ke dalam rongga-rongga yang terdapat pada karya ini dan menemukan cahaya yang muncul dari dalamnya. Secara spasial, karya ini juga direspons oleh Hermawan Dasmanto agar tetap terhubung dengan struktur ruang pamer secara keseluruhan. Alas grating dan pecahan genteng terakota yang akrab ditemukan di lingkungan RAD turut menjadi bagian dari presentasi karya ini.
Melalui berbagai karya dan kolaborasi yang hadir dalam ruang ini, kami mengundang pengunjung untuk memasuki serangkaian percakapan, material, dan perjumpaan yang membentuk praktik keseharian RAD.
Di tengah perjumpaan tersebut, kami juga menyadari bahwa tidak semua hal dapat diterima begitu saja tanpa pertanyaan. Sebagian justru meminta kita untuk kembali melihat dengan lebih saksama relasi-relasi yang menopang ruang ini, nilai-nilai yang ingin dijaga, dan tanggung jawab yang menyertai setiap bentuk keterhubungan.
Karena itu, semoga ruang ini dapat menjadi sebuah meja yang cukup panjang untuk menampung lebih banyak cerita, pengalaman, dan kemungkinan untuk bertemu—serta cukup luas untuk menampung pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai.
DAFTAR REFERENSI:
Brown, B. (2012). Daring Greatly: How the Courage to Be Vulnerable Transforms the Way We Live, Love, Parent, and Lead. New York: Gotham Books.
Gunawan, I. A. N., Suryani, & Shalahuddin, I. (2022). Dampak penggunaan media sosial terhadap gangguan psikososial pada remaja: A narrative review. Jurnal Kesehatan, 15(1), 78–92.
Office of the Surgeon General. (2023). Our epidemic of loneliness and isolation: The U.S. Surgeon General’s advisory on the healing effects of social connection and community. U.S. Department of Health and Human Services.
Sennett, R. 2012. Together: The Rituals, Pleasures and Politics of Cooperation. New Haven: Yale University Press.
Turkle, S. (2011). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. New York: Basic Books.